Minggu, 07 Juni 2015

Your Light, My Dream ...







Your Light ... My Dream ...

 Entah mengapa ingin sekali pagi itu, di dua Juni dua ribu lima belas aku begitu ingin menyapa mentari lebih awal.
Biasanya hadirnya mentari tak kuhiraukan karena aku terlalu ribut dengan pagiku.
Tapi pagi itu ... aku sangat merindukannya. Rinduku sudah tak terbendung.
Yah, bukan pada mentari aku merindu, tapi pada dia seseorang yang pernah sejenak hadir dalam hariku dan memberiku segenggam cahaya baru dalam dinginnya ruang kamarku.
Perlahan cahaya yang ia bawa mampu menghangatkan desahan kabut yang menyelimutiku.
Perlahan tapi pasti aku menikmati kehangatannya dan ku mulai menyimpannya dalam kamarku.
Ia telah mendapatkan tempat baru yang sengaja ku bangun dengan kepercayaan dan keyakinan yang baru. Keragu-raguan dan kekhawatiran memang terkadang masih menghantuiku.
Mampukah aku kembali bangkit dengan sekepal keyakinan dan segenggam semangat serta setegap keyakinan pada ... diriku sendiri?
Mampukah aku kembali berdiri menyusuri jalanan panjang yang berliku dan tak berbatas?
Mampukah aku kembali menyalakan tungku gairah emosiku untuk bersama menikmati senja bersamanya?
Mampukah aku meninggalkan mentariku disini dan menyambut mentari lainnya yang akan menuntun langkahku?
Mampukah aku? ... mampukah aku? dan ketakutan itu datang terkadang tak tau waktu.
Tapi aku tak mau kalah dalam keragu-raguan ini.
Ku tutup dalam keterbukaan pada mereka yang selalu memberikan kasih sayangnya melalui doa-doa yang menyejukkan hati.
Sampai akhirnya ... dengan Bismillahirrahmaanirrahim ... aku tetapkan untuk menerimanya untuk menjadi pengemudi hidupku selanjutnya.

Tapi ...
Entah mengapa kebimbangan itu beralih padanya.
Yah, kini dia yang merasa ragu, khawatir, cemas, tidak percaya diri dan keragu-raguan lainnya.
Kini ia menarik kembali genggaman cahaya yang telah menerangi seluruh ruang hidupku dan membuatku kembali dalam keremangan malam yang enath kapan akan kembali menyapa mentari.




Rinduku sudah tak tertahan.
Ketika keputusan itu ku genggam, aku berusaha sekuat tenaga untuk meletakkan dan menyimpan bongkahan-bongkahan kenangan masa laluku dengan tarikan nafas yang panjang dan menguncinya dalam ruang tersendiri.
Aku bertekad untuk menyambut mentari esok dengan senyum keyakinan.
Kini ... aku kembali disini, di depan ruang kamar yang sudah kukunci dengan rapat.
Apakah aku akan kembali membukanya dan menikmati kembali menu didalamnya?
Ataukah aku akan berdiam saja di sini?
Atau aku harus bagaimana? Kembali aku terpaku dalam kejutan hidup yang tak terduga ini.
Allah ... ampuni aku :(
Kuputuskan untuk kembali melangkah menjauhi pintu kamar ini.
Aku tak ingin jatuh dalam genangan masa lalu yang telah menjadi taqdirNya.
Aku tak mau meratapi kepergiannya yang aku yakin kini ia telah bahagia disana.
Biarlah kunikmati rindu ini, biarlah kutangisi rindu ini, biarlah kusapa rindu ini, biarlah kupeluk rindu ini dalam malam-malamku.

Dan hari itu, rinduku sudah tak tertahan rasanya.
Aku tak ingin lagi menangis.
Aku tak ingin lagi tertunduk.
Mentari ... sambutlah aku.
Aku ingin menyapamu.
Aku yakin cahayamu itu milikku.
Aku yakin cahayamu itu masih kau simpan untukku.
Aku yakin kelak kau akan kembali menggenggamku dan menyerahkan cahaya itu padaku.
Aku kan menanti hari itu datang.
Aku kan menyambutnya dengan senyuman.
Senyumanku kan kusimpan untukmu.

Hai cahaya yang kini bersembunyi.
Hai cahaya yang kini merenung.
Kutunggu kau di keyakinan hatiku.
Aku disini merindukanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar