Minggu, 06 September 2015

Retardasi mental


Mengapa itu terjadi padanya?

Tak ada orangtua yang menginginkan memiliki keturunan yang mengalami kekurangan. Demikian pula dengan anak yang tidak ingin lahir dengan ketidaksempurnaan. Setiap manusia pasti ingin mendapatkan yang terbaik. Akan tetapi tidak ada yang bisa melawan kehendakNya. Ketidaksempurnaan yang kita alami bukan karena Allah tidak sayang pada kita, bukan pula karena dosa kita sehingga harus dibebankan pada orang lain. Akan tetapi ketidaksempurnaan itu lahir untuk menyempurnakan ibadah kita padaNya.






Kamis, 20 Agustus 2015

Bu Ain

Hari ini aku akan berbagi cerita tentang seseorang yang bernama "Bu Ain". Tidak ada yang istimewa darinya. Dia seorang wanita yang biasa-biasa saja. Terlahir dari pasangan suami istri yang bernama Ir. Abdullah Hidayat SA, M.T. dan Lilik Alwiyah,S.Paud. Ain kecil lahir di kota Surabaya 21 Mei 34 tahun silam. Tumbuh dan besar di kota Metropolitan Surabaya ini dari sejak lahir dan kini. Riwayat pendidikannyapun tak ada yang istimewa. Menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun, lanjut menengah pertama tiga tahun, kemudian menengah atas tiga tahun. Di perguruan tinggi berhasil dilampauinya selama empat tahun dengan hasil yang cukup baik.
Ayah Ain adalah seorang dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada jurusan teknik sipil dan perencanaan. Ibu Ain awalnya seorang ibu rumah tangga lulusan SMU yang bekerja sebagai wirausaha. Namun mendapatkan tawaran sebagai guru TK. Hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa kuliah di jurusan Pendidikan Anak Usia Dini.
Walaupun kedua orangtuanya memiliki background sebagai pendidik, Ain muda tidak pernah berkeinginan menjadi guru. Seingatnya, ketika masih di bangku sekolah dulu yang sering menjadi cita-citanya adalah dokter, pramugari, model, sampai pada ingin menjadi wanita yang berguna bagi nusa dan bangsa ( so mengharukan tho ... wes, khas anak-anak banget ☺)
Setelah mengarungi perjalanan kehidupan yang panjang dan berliku (halah :)) akhirnya Ain terdampar di sebuah sekolah kecil di sebuah kampung yang padat penduduk. Disinilah awal mula Ain belajar menjadi seorang guru. Disini pula awal Ain melihat kepolosan dan keluguan anak-anak yang ia temani bermain dan belajar sepanjang hari. Disini, di SD Mardi Putra.
Perjalanan di sekolah ini tidak lama. Karena beberapa masalah yang terjadi di internal sekolah itu, akhirnya Ain memutuskan untuk keluar dan mencari tempat yang baru. Akhirnya ia menemukan sekolah swasta islam yang cukup ternama. Dikatakan ternama karena memang merupakan cabang dari sebuah yayasan besar yang ada di Jakarta. Disinilah Ain menemukan banyak hal, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya, impiannya, bahkan cita-citanya. Ain belajar menjadi seorang murid dari para seniornya, Ain belajar menjadi teman untuk sebaya dan teman-teman kcilnya, Ain bekajar menjadi pendengar bagi kepuasan dan ketidakpuasan dari orangtua teman-teman kecilnya, Ain berusaha menikmati baik dan buruknya suasana di tempat yang kini mengayominya. Disinilah pertualangan itu dimulai. Disini, di SD Islam Al-Azhar 11 Surabaya.

Kamis, 13 Agustus 2015

Rasa : Lubang dalam Hati

Menikmati riak air didanau ini dengan lubang dalam hati Letto,

yang mendayu menyapa, seiring angin senja sore ini.

After Rain

Akan ada mentari yang melukiskan pelangi.
Akan ada aku yang setia menanti, dan menikmati.


-auliaain.tumblr.com
 22July2015

Rabu, 22 Juli 2015

Rasa dan Cahaya

Kemana perginya rasa itu?
Redupkah cahaya itu?
Dimana aku harus menemukan jawaban semua ini?
Aku sudah berlari mencarinya.
Aku sudah berusaha mempertahankannya.
Tapi tak kutemukan bayangannya.
Dimana ...

Rasa

Bagaimana aku harus memperlakukan rasa ini?
Haruskah aku buang?
Atau aku simpan?
Tapi untuk apa?
Wahai penguasa hati setiap insan ... dimana harus aku letakkan?

Rasa

"Kemana Perginya rasa itu?"


Mungkin inilah indahnya ruang yang bernama kehidupan.
Selalu memberikan rasa yang beraneka seperti manisnya ice cream yang lumer di lidah.
Kejutan-kejutan nikmat dari yang Maha Kuasa terkadang memang tak mampu aku mengerti.
Apa yang harus aku lakukan?
Berusaha untuk ikhlas dan tetap yakin bahwa ini adalah yang terbaik untukku.
Berat? 
Senyumlah :)

Minggu, 07 Juni 2015

Your Light, My Dream ...







Your Light ... My Dream ...

 Entah mengapa ingin sekali pagi itu, di dua Juni dua ribu lima belas aku begitu ingin menyapa mentari lebih awal.
Biasanya hadirnya mentari tak kuhiraukan karena aku terlalu ribut dengan pagiku.
Tapi pagi itu ... aku sangat merindukannya. Rinduku sudah tak terbendung.
Yah, bukan pada mentari aku merindu, tapi pada dia seseorang yang pernah sejenak hadir dalam hariku dan memberiku segenggam cahaya baru dalam dinginnya ruang kamarku.
Perlahan cahaya yang ia bawa mampu menghangatkan desahan kabut yang menyelimutiku.
Perlahan tapi pasti aku menikmati kehangatannya dan ku mulai menyimpannya dalam kamarku.
Ia telah mendapatkan tempat baru yang sengaja ku bangun dengan kepercayaan dan keyakinan yang baru. Keragu-raguan dan kekhawatiran memang terkadang masih menghantuiku.
Mampukah aku kembali bangkit dengan sekepal keyakinan dan segenggam semangat serta setegap keyakinan pada ... diriku sendiri?
Mampukah aku kembali berdiri menyusuri jalanan panjang yang berliku dan tak berbatas?
Mampukah aku kembali menyalakan tungku gairah emosiku untuk bersama menikmati senja bersamanya?
Mampukah aku meninggalkan mentariku disini dan menyambut mentari lainnya yang akan menuntun langkahku?
Mampukah aku? ... mampukah aku? dan ketakutan itu datang terkadang tak tau waktu.
Tapi aku tak mau kalah dalam keragu-raguan ini.
Ku tutup dalam keterbukaan pada mereka yang selalu memberikan kasih sayangnya melalui doa-doa yang menyejukkan hati.
Sampai akhirnya ... dengan Bismillahirrahmaanirrahim ... aku tetapkan untuk menerimanya untuk menjadi pengemudi hidupku selanjutnya.

Tapi ...
Entah mengapa kebimbangan itu beralih padanya.
Yah, kini dia yang merasa ragu, khawatir, cemas, tidak percaya diri dan keragu-raguan lainnya.
Kini ia menarik kembali genggaman cahaya yang telah menerangi seluruh ruang hidupku dan membuatku kembali dalam keremangan malam yang enath kapan akan kembali menyapa mentari.


Rabu, 13 Mei 2015

Di Tepi Laut Merah

Senja Itu di Tepi Laut Merah, Mei 2014
Ada kesepihan dan kerinduan yang menyelimutiku tatkala aku menikmati sapaan angin di tepi laut merah senja itu.
Ombak lincah yang berkejaran seakan menyapa pengunjung untuk turut merayakan pergantian hari.
Aku ... ?  
Aku ingin menatap luasnya hamparan air ini, dimana ujung nya?
Hamparan air ini menyimpan teka teki seperti kehidupan.
Kita takkan tau kapan ombak menyapa kaki kaki kita dengan lembut dan memberi keceriaan.
Kita juga takkan tau kapan ombak itu mengejar-ngejar kita.
Aku tak ingin bergabung dengan ombak di senja itu.
Aku ingin menikmati kedamaian di balik kerinduanku.
Terkadang menoleh kebelakang itu aku lakukan bukan untuk menikmati kesedihan.
Bukan untuk mengenang masa lalu.
Tapi mencoba menghargai apa yang telah kita terima sebagai syukur kita padaNya.
Indahnya senja di tepi laut merah.
Kusimpan dalam catatan harianku sebagai nikmatNya yang sangat luar biasa. 


-Tumblr :
Foto yang sama :
Didepan terhampar luas samudra nan biru
Kaki kaki kecil ini memainkan ombak berkejaran
Semilir angin lembut menyapa wajah sendu.
Tangan mungil itu mengambil kerang tersesat ...
Melepaskannya kembali pada dunia yang fana.
Melangkah ...
Pelan ... meraih impian
Stand by me ... 
#Senja di #laut #sunset #sweetmemories


Mei 2015

Menjelang hari jadiku ...

Nggak terasa sudah disini posisiku. Nggak banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya seorang wanita yang berusaha ingin mengajak bermain dan bercanda bersama sekumpulan bocah disebuah taman yang penuh warna. Aku hanyalah seorang wanita yang saat ini menemani laki-laki kecil yang aku pilih untuk kuajak bermain dan bercanda bersamaku setiap hari. Aku hanyalah seorang wanita yang belum bisa memberikan kebahagiaan pada lingkungan dan keluarganya. Aku hanyalah seorang wanita biasa ...