Rabu, 06 April 2016

My Little Star

Hari ini untuk pertama kalinya dia memelukku dengan cepat dan erat.
Berlari sambil berteriak “Bu Ain, laba-laba. Takut laba-laba.”
“Tidak ada laba-laba, nak.” jawabku menenangkannya.
Masih dengan terkejut kuusap kepalanya.
Oalah, le yang pinter ya, batinku untuknya.
.
Dia salah satu murid spesialku, yang sampai saat ini aku masih harus belajar dan belajar untuk memahami dia.
Ada perasaan bersalah yang sampai saat ini bergelayut di bathinku.
Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk dia.
.
Gusti, semoga kelak dia akan menjadi laki-laki yang hebat.
Laki-laki yang memahami dunia hewan seperti kecintaannya selama ini.
Laki-laki hebat yang membanggakan.
Laki-laki yang menyenangkan.
Aamiin …

Kamis, 25 Februari 2016

Aku Menang, Aku Kalah

Menang dan kalah dalam suatu kompetisi atau perlombaan memang sudah biasa. Kalau tidak menang, ya kalah. Kata-kata menang dan kalah sudah sangat familiar bagi ku, yang biasa memberi support pada anak-anak didik atau teman-teman yang akan mengikuti suatu pertandingan. 

Ketika kemenangan itu ada ditangan kita, rasanya dunia penuh warna. Senyum terkembang dan binar mata bangga yang tak surut hilang dari wajah kita. Rasanya begitu bahagia sekali. Perjuangan yang telah dilalui dengan sangat luarbiasa, serta pengorbanan yang telah dilakukan terbayar lunas dengan predikat "pemenang".

Tapi ketika kemenangan itu lepas dari tangan kita, dan kita meraih predikat "kalah", maka rasanya semua pengorbanan dan kerja keras itu terasa sia-sia tak berguna. Kesedihan dan kekecewaan semakin akrab bergelayut di hati kita. Tak ada senyum dan binar mata yang berkilau. Wajah tertunduk dengan berjuta pertanyaan di hati, mengapa semua ini terjadi?, apa yang salah?, apa yang kurang, sampai aku kalah?, dan masih banyak lagi.



Wajar kan? Iya, perasaan itu semua memang wajar dan manusiawi. Disetiap pertandingan kita memang harus menyiapkan dua mental yang harus stand by, yaitu mental ketika kalah dan ketika menang. Walau memang perasaan kalah itu akan lebih lama menyapa, tapi dari kekalahan itu kita kan belajar menghargai perjuangan dan pengorbanan untuk berusaha lebih baik lagi.

Baru saja aku merasakan sebuah kekalahan yang membuat aku tersadar bahwa perjuangan itu jangan pernah berhenti, sejenak pun jangan. Aku merasakan hidup memang butuh perjuangan dan pengorbanan, dalam bentuk apapun itu. Kesedihan yang kurasakan takkan ada yang mampu menghapusnya, tidak pula jemari orang lain, kan tetapi jemari kita sendirilah yang bisa menghapunya dan lantas menggenggam untuk bertekad akan kembali merangkai mimpi.

Aku kalah, Aku menang ...
Aku takkan pernah menyerah

 

Senin, 08 Februari 2016

Sayangmu tak bisa digantikan dengan uang


Uang. Bagi kita yang hidup, apalagi dijaman sekarang pasti membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan banyak pula yang merasa uang adalah segala-galanya. Dengan uang kita merasa bisa membeli segalanya yang kita inginkan, sampai akhirnya menghalalkan segala cara dengan uang tersebut. Tak jarang uang terkadang bisa digunakan untuk mengambil alih posisi sesuatu atau seseorang. Ini yang dialami oleh salah satu anak di tempat saya bekerja. Dia terbukti mengambil uang saku milik temannya. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi hal ini tentu saja membuat kegelisahan oleh kami para dewasa. Setelah melalui proses yang cukup panjang, memang akhirnya anak tersebut mengakui perbuatannya. Tapi yang membuat kami cukup kaget adalah bahwa anak tersebutpun setiap hari sudah dibawakan uang saku oleh orangtuanya. Lantas apa tujuan anak tersebut mengambil uang saku temannya? Apa masih kurang uang saku yang sudah dibawanya? Banyak kemungkinan yang kami pikirkan.Setelah diajak bicara berdua akhirnya banyak hal yang terungkap yang membuat kami terdiam. Anak tersebut secara materi memang tidak pernah kekurangan, bahkan berlebih. Setiap hari orangtuanya bahkan memberi uang saku lebih banyak dari yang kami tetapkan. Dengan uang sakunya yang lebih itu terkadang dia mentraktir teman-temannya membeli jajanan di kantin. Kedua oranngtuanya sama-sama bekerja di instansi pemerintah. Posisi karir kedua orangtuanya sepertinya cukup penting sehingga mereka sering sekali pulang lebih lama daripada jadwal yang seharusnya. Untuk memenuhi kebutuhan anaknya di rumah sering mereka meninggalkan uang yang lebih sehingga bisa digunakan oleh anaknya sewaktu-waktu tanpa harus merepotkan mereka. Beberapa hari ini orangtuanya sedang sibuk bekerja hingga harus pulang larut malam, bahkan harus keluar kota untuk beberapa hari. Sebagai gantinya, orangtuanya memberikan sejumlah uang yang cukup banyak agar anak tersebut tidak rewel selama ditinggal kerja oleh orangtuanya tersebut. Hal inilah yang menjadi pemicu anak tersebut sampai mengambil uang milik temannya. Anak tersebut mengambil uang karena merasa uang yang dia miliki kurang. DIa merasa uang yang berlebih itu bisa membuatnya bahagia.
Saat hal ini kami sampaikan ke orangtuanya, orangtuanya merasa kaget tak percaya. Padahal uang yang diberikan oleh orangtuanya selama mereka pergi keluar kota sudah lebih dari cukup. Mereka tak membayangkan anak mereka masih merasa kurang. Hal ini menjadikan pukulan bagi orangtua anak tersebut. Selama ini mereka menganggap bahwa anak mereka baik-baik saja.  Hal ini yang harus dipahami oleh orangtua yang sama-sama bekerja. Terkadang dengan memberikan materi yang lebih sudah dianggap mewakili kasih sayang orangtua untuk anak-anaknya. Padahal sesungguhnya kasih sayang yang dibutuhkan adalah kedekatan antara anak dan orangtua yang tidak bisa tergantikan oleh apapun bahkan materi yang berlebihreminder me ...

 

Minggu, 06 September 2015

Retardasi mental


Mengapa itu terjadi padanya?

Tak ada orangtua yang menginginkan memiliki keturunan yang mengalami kekurangan. Demikian pula dengan anak yang tidak ingin lahir dengan ketidaksempurnaan. Setiap manusia pasti ingin mendapatkan yang terbaik. Akan tetapi tidak ada yang bisa melawan kehendakNya. Ketidaksempurnaan yang kita alami bukan karena Allah tidak sayang pada kita, bukan pula karena dosa kita sehingga harus dibebankan pada orang lain. Akan tetapi ketidaksempurnaan itu lahir untuk menyempurnakan ibadah kita padaNya.






Kamis, 20 Agustus 2015

Bu Ain

Hari ini aku akan berbagi cerita tentang seseorang yang bernama "Bu Ain". Tidak ada yang istimewa darinya. Dia seorang wanita yang biasa-biasa saja. Terlahir dari pasangan suami istri yang bernama Ir. Abdullah Hidayat SA, M.T. dan Lilik Alwiyah,S.Paud. Ain kecil lahir di kota Surabaya 21 Mei 34 tahun silam. Tumbuh dan besar di kota Metropolitan Surabaya ini dari sejak lahir dan kini. Riwayat pendidikannyapun tak ada yang istimewa. Menyelesaikan sekolah dasar selama enam tahun, lanjut menengah pertama tiga tahun, kemudian menengah atas tiga tahun. Di perguruan tinggi berhasil dilampauinya selama empat tahun dengan hasil yang cukup baik.
Ayah Ain adalah seorang dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada jurusan teknik sipil dan perencanaan. Ibu Ain awalnya seorang ibu rumah tangga lulusan SMU yang bekerja sebagai wirausaha. Namun mendapatkan tawaran sebagai guru TK. Hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa kuliah di jurusan Pendidikan Anak Usia Dini.
Walaupun kedua orangtuanya memiliki background sebagai pendidik, Ain muda tidak pernah berkeinginan menjadi guru. Seingatnya, ketika masih di bangku sekolah dulu yang sering menjadi cita-citanya adalah dokter, pramugari, model, sampai pada ingin menjadi wanita yang berguna bagi nusa dan bangsa ( so mengharukan tho ... wes, khas anak-anak banget ☺)
Setelah mengarungi perjalanan kehidupan yang panjang dan berliku (halah :)) akhirnya Ain terdampar di sebuah sekolah kecil di sebuah kampung yang padat penduduk. Disinilah awal mula Ain belajar menjadi seorang guru. Disini pula awal Ain melihat kepolosan dan keluguan anak-anak yang ia temani bermain dan belajar sepanjang hari. Disini, di SD Mardi Putra.
Perjalanan di sekolah ini tidak lama. Karena beberapa masalah yang terjadi di internal sekolah itu, akhirnya Ain memutuskan untuk keluar dan mencari tempat yang baru. Akhirnya ia menemukan sekolah swasta islam yang cukup ternama. Dikatakan ternama karena memang merupakan cabang dari sebuah yayasan besar yang ada di Jakarta. Disinilah Ain menemukan banyak hal, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya, impiannya, bahkan cita-citanya. Ain belajar menjadi seorang murid dari para seniornya, Ain belajar menjadi teman untuk sebaya dan teman-teman kcilnya, Ain bekajar menjadi pendengar bagi kepuasan dan ketidakpuasan dari orangtua teman-teman kecilnya, Ain berusaha menikmati baik dan buruknya suasana di tempat yang kini mengayominya. Disinilah pertualangan itu dimulai. Disini, di SD Islam Al-Azhar 11 Surabaya.

Kamis, 13 Agustus 2015

Rasa : Lubang dalam Hati

Menikmati riak air didanau ini dengan lubang dalam hati Letto,

yang mendayu menyapa, seiring angin senja sore ini.

After Rain

Akan ada mentari yang melukiskan pelangi.
Akan ada aku yang setia menanti, dan menikmati.


-auliaain.tumblr.com
 22July2015