Kamis, 25 Februari 2016

Aku Menang, Aku Kalah

Menang dan kalah dalam suatu kompetisi atau perlombaan memang sudah biasa. Kalau tidak menang, ya kalah. Kata-kata menang dan kalah sudah sangat familiar bagi ku, yang biasa memberi support pada anak-anak didik atau teman-teman yang akan mengikuti suatu pertandingan. 

Ketika kemenangan itu ada ditangan kita, rasanya dunia penuh warna. Senyum terkembang dan binar mata bangga yang tak surut hilang dari wajah kita. Rasanya begitu bahagia sekali. Perjuangan yang telah dilalui dengan sangat luarbiasa, serta pengorbanan yang telah dilakukan terbayar lunas dengan predikat "pemenang".

Tapi ketika kemenangan itu lepas dari tangan kita, dan kita meraih predikat "kalah", maka rasanya semua pengorbanan dan kerja keras itu terasa sia-sia tak berguna. Kesedihan dan kekecewaan semakin akrab bergelayut di hati kita. Tak ada senyum dan binar mata yang berkilau. Wajah tertunduk dengan berjuta pertanyaan di hati, mengapa semua ini terjadi?, apa yang salah?, apa yang kurang, sampai aku kalah?, dan masih banyak lagi.



Wajar kan? Iya, perasaan itu semua memang wajar dan manusiawi. Disetiap pertandingan kita memang harus menyiapkan dua mental yang harus stand by, yaitu mental ketika kalah dan ketika menang. Walau memang perasaan kalah itu akan lebih lama menyapa, tapi dari kekalahan itu kita kan belajar menghargai perjuangan dan pengorbanan untuk berusaha lebih baik lagi.

Baru saja aku merasakan sebuah kekalahan yang membuat aku tersadar bahwa perjuangan itu jangan pernah berhenti, sejenak pun jangan. Aku merasakan hidup memang butuh perjuangan dan pengorbanan, dalam bentuk apapun itu. Kesedihan yang kurasakan takkan ada yang mampu menghapusnya, tidak pula jemari orang lain, kan tetapi jemari kita sendirilah yang bisa menghapunya dan lantas menggenggam untuk bertekad akan kembali merangkai mimpi.

Aku kalah, Aku menang ...
Aku takkan pernah menyerah

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar